Pernah melihat budaya Jepang, baik itu secara langsung atau dari media, saat orang duduk di depan makanan, menyatukan kedua tangan, lalu berkata, 「いただきます」(itadakimasu) sebelum mulai makan?

Ungkapan ini sering diterjemahkan secara sederhana sebagai “selamat makan”. Namun, apakah itadakimasu benar-benar berarti demikian? Sebenarnya, itadakimasu berasal dari kata kerja いただく (itadaku) yang berarti “menerima” dan juga digunakan sebagai bentuk merendahkan diri atau hormat ketika menerima sesuatu dari pihak lain. Karena itu, tidak ada terjemahan bahasa Indonesia yang sepenuhnya setara dengan itadakimasu. Dalam konteks makan, ungkapan ini digunakan sebelum menyantap makanan dan dapat membawa nuansa hormat serta rasa syukur atas makanan yang diterima. Dengan kata lain, ketika seseorang mengatakan itadakimasu, ia tidak sekadar mengatakan “selamat makan”, tetapi secara simbolis menyatakan bahwa ia “menerima makanan tersebut dengan penuh rasa hormat”.

Secara linguistik, いただきます (itadakimasu) merupakan bentuk -masu dari kata いただく (itadaku). Kata ini memiliki beberapa fungsi, salah satunya adalah “menerima” sesuatu dengan cara yang merendahkan diri (kenjōgo). Dalam konteks tertentu, itadaku juga digunakan untuk menyatakan “makan” atau “minum” secara sopan. Karena itu, jika diterjemahkan secara harfiah dalam konteks sebelum makan, itadakimasu dapat dipahami sebagai ungkapan bahwa seseorang “menerima” makanan yang akan disantapnya. Dari sinilah muncul nuansa penghormatan yang kemudian berkaitan dengan konsep 感謝 (kansha), yaitu rasa terima kasih terhadap sesuatu yang telah diterima.

Dalam budaya makanan Jepang, kansha dapat dipahami dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar berterima kasih kepada orang yang memasak. Makanan yang tersaji di meja merupakan hasil dari berbagai proses dan melibatkan banyak pihak. Bahan pangan berasal dari alam, kemudian dibudidayakan atau diperoleh oleh petani dan nelayan, diproses serta didistribusikan, hingga akhirnya diolah menjadi makanan. Oleh karena itu, itadakimasu dalam pemahaman budaya Jepang sering dikaitkan dengan penghormatan terhadap makanan serta orang-orang dan proses yang memungkinkan makanan tersebut hadir di hadapan kita. Namun, penting untuk dicatat bahwa hubungan antara itadakimasu, rasa syukur, dan penghormatan terhadap kehidupan merupakan hasil perkembangan budaya dan wacana sosial yang kompleks. Itadakimasu tidak memiliki satu makna filosofis yang selalu sama bagi setiap orang Jepang.

Dengan demikian, menerjemahkan itadakimasu hanya sebagai “selamat makan” sebenarnya menghilangkan sebagian nuansa budaya di dalamnya. Ungkapan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kebiasaan makan yang menandai dimulainya waktu makan sekaligus dapat mengungkapkan penghormatan terhadap makanan yang diterima. Di sinilah bahasa dan budaya bertemu. Sebuah ungkapan yang secara sederhana terdiri dari satu kata kerja ternyata dapat membawa makna sosial yang jauh lebih luas ketika digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita mungkin mengira bahwa itadakimasu adalah sebuah tradisi Jepang yang telah dilakukan selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Namun, perlu kita lihat Kembali sedikit sejarahnya. Memang, kata いただく (itadaku) sendiri memiliki sejarah panjang dalam bahasa Jepang dan penggunaannya sebagai bentuk bahasa yang hormat ketika menerima sesuatu bukanlah fenomena baru. Akan tetapi, menjadikan いただきます (itadakimasu) sebagai ungkapan standar sebelum makan yang selalu dikaitkan dengan rasa syukur kepada makanan, alam, atau kehidupan merupakan perkembangan yang jauh lebih kompleks. Penelitian mengenai itadakimasu dalam masyarakat Jepang modern menunjukkan bahwa makna dan praktik tersebut terbentuk melalui berbagai perkembangan sosial, keagamaan, dan budaya, sehingga tidak tepat jika kita menyebutnya sebagai sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak zaman Jepang kuno.

Salah satu konteks penting untuk memahami semakin dikenalnya itadakimasu adalah perkembangan 学校給食 (kyūshoku) atau makan siang sekolah. Program makan di sekolah Jepang memiliki sejarah sejak 1889, ketika sebuah sekolah di Yamagata menyediakan makanan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Pada sekitar 1920 dan 1930, makan siang sekolah mulai mendapat dukungan pemerintah dan semakin berkembang sebagai bagian dari upaya memperbaiki gizi anak. Setelah Perang Dunia II, program ini kembali diperluas secara nasional. Pada 1947, sekitar tiga juta anak di kawasan perkotaan menerima makan siang sekolah, dan pada 1954 sistem tersebut diperkuat melalui School Lunch Act. Dalam lingkungan sekolah, makan bukan hanya menjadi aktivitas untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga kesempatan untuk mengajarkan kebiasaan, tata krama, kebersihan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap makanan. Konteks pendidikan semacam inilah yang membantu kita memahami bagaimana ungkapan seperti itadakimasu dapat menjadi bagian yang dikenal luas dalam kebiasaan makan masyarakat Jepang modern.

Apakah setiap orang Jepang selalu mengatakan itadakimasu sebelum makan? Jawabannya bukan “ya”. Seperti kebiasaan lainnya, penggunaannya dapat berbeda berdasarkan keluarga, lingkungan sosial, usia, dan situasi. Bagi sebagian orang, itadakimasu merupakan kebiasaan yang dilakukan hampir secara otomatis sebelum makan. Bagi yang lain, ungkapan tersebut mungkin tidak selalu diucapkan, terutama ketika makan sendirian atau dalam situasi tertentu. Bahkan ketika seseorang mengucapkannya, tidak berarti ia sedang secara sadar memikirkan seluruh makna filosofis tentang alam, hewan, atau kehidupan setiap kali akan makan. Sebuah ungkapan budaya dapat tetap digunakan karena telah menjadi bagian dari kebiasaan sosial, meskipun kesadaran seseorang terhadap asal-usul atau makna historisnya berbeda-beda. Karena itu, itadakimasu lebih tepat dipahami sebagai praktik bahasa dan budaya yang menjadi kebiasaan masyarakat, bukan sebagai aturan mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang Jepang dalam setiap kesempatan.

Pada akhirnya, menerjemahkan いただきます (itadakimasu) hanya sebagai “selamat makan” memang terasa praktis, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan maknanya. Secara linguistik, ungkapan tersebut berasal dari いただく (itadaku), yang antara lain berarti “menerima” dan digunakan sebagai bentuk merendahkan diri ketika menerima sesuatu. Dalam konteks makan, itadakimasu kemudian berfungsi sebagai ungkapan sebelum makan yang dapat membawa nuansa penghormatan dan rasa syukur terhadap makanan yang diterima. Namun, maknanya tidak harus dipahami secara tunggal sebagai “berterima kasih kepada hewan”, “berterima kasih kepada alam”, atau bahkan sebagai ritual keagamaan. Sejarahnya menunjukkan hubungan yang lebih kompleks antara bahasa, kebiasaan makan, pendidikan, dan perkembangan masyarakat Jepang modern. Jadi, ketika seseorang mengatakan itadakimasu, mungkin terjemahan terbaik bukanlah satu kalimat tertentu, melainkan sebuah gagasan sederhana, “Saya menerima makanan ini dengan rasa hormat.” Dan mungkin, justru karena tidak ada satu terjemahan yang benar-benar sempurna, itadakimasu menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana sebuah kata dapat membawa budaya bersamanya.