Pernahkah Anda berpikir mengapa masyarakat Jepang cenderung memperlakukan benda mati, seperti pohon raksasa, dengan penghormatan yang begitu tinggi? Mungkin saat anda membaca manga, sering terbesit dialog seperti “aku akan berdoa kepada dewa ujian” atau “aku akan minta perlindungan dari dewa kendaraan”. Mengapa bisa begitu? Masyarakat Jepang yang mayoritas penganut Shinto mengenal konsep yang disebut Yaoyorozu no Kami (八百万の神). Secara harfiah, istilah ini memliki arti "delapan juta dewa," namun angka tersebut sebenarnya melambangkan jumlah yang tak terhingga. Dalam pandangan dunia Shinto, spiritualitas tidak hanya ditemukan di kuil saja, melainkan dewa-dewa juga bersemayam dalam setiap butir nasi, aliran sungai, hingga gadget yang kita genggam. Tentu saja hal ini kurang bisa dimengerti oleh pihak-pihak yang menganut monoteis. Namun hal ini merupakan kepercayaan umum di Jepang, karena erat sekali kaitannya dengan Shinto.

Kepercayaan terhadap Yaoyorozu no Kami bukanlah fenomena yang baru, melainkan lahir dari kepercayaan Shinto, agama asli Jepang yang tidak memiliki pendiri tunggal maupun kitab suci khusus. Konsep ini berakar dari pengamatan mendalam masyarakat agraris Jepang kuno terhadap kekuatan alam yang luar biasa, baik yang memberi berkah seperti hujan, maupun yang menghancurkan seperti badai. Dalam pandangan Shinto, dunia ini tidak terbagi secara kaku terkotak-kotakan antara rohani dan duniawi. Sebaliknya, Kami dipahami sebagai energi atau esensi yang termanifestasi dalam segala sesuatu yang membangkitkan rasa takjub (awe). Inilah yang menyebabkan Shinto bersifat inklusif, ia tidak mencari Tuhan di langit yang jauh, melainkan merayakan kehadiran dewa dalam realitas fisik di sekitarnya.

Kehadiran dewa dalam tradisi Jepang mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari bentang alam yang megah hingga benda-benda kecil buatan manusia. Di alam liar, sebuah batu besar yang dililit tali jerami (shimenawa) menandakan bahwa objek tersebut adalah wadah bagi Kami. Namun, yang lebih unik adalah konsep Tsukumogami, yaitu keyakinan bahwa perkakas rumah tangga seperti payung, cermin, atau alat musik dapat memperoleh jiwa setelah mencapai usia seratus tahun. Hal ini mencerminkan sensitivitas budaya Jepang yang melihat bahwa batas antara "benda mati" dan "makhluk hidup" sebenarnya sangat tipis, selama sesuatu itu dirawat dan dihargai, ia memiliki nyawa. Konsep Yaoyorozu no Kami juga memiliki sisi lain yang lebih horor, yaitu Yokai (妖怪). Jika Kami sering kali dipandang sebagai entitas yang membawa berkah atau kekuatan alam yang murni, Yokai adalah manifestasi dari energi spiritual yang lebih spesifik, aneh, dan terkadang bersifat mengganggu. Hubungan antara keduanya sangatlah tipis. Dalam kepercayaan kuno, seorang Kami yang tidak dipuja dengan benar atau diabaikan bisa saja berubah menjadi entitas yang menakutkan. Fenomena Tsukumogami, misalnya, sering kali digambarkan sebagai Yokai berbentuk payung tua (Kasa-obake) atau lentera (Chochin-obake) yang "hidup" karena merasa dibuang oleh pemiliknya. Kehadiran Yokai dalam budaya Jepang seperti Kappa di sungai atau Kodama di hutan, menunjukkan bahwa dunia spiritual Jepang tidak hanya berisi dewa yang agung, tetapi juga makhluk-makhluk gaib yang eksentrik. Keberadaan mereka berfungsi sebagai pengingat agar manusia selalu waspada dan menghormati batasan-batasan alam yang tak terlihat.

Kehadiran Yaoyorozu no Kami dan Yokai yang hadir dimana saja ini pada akhirnya membentuk sebuah kesadaran yang mendalam dalam masyarakat Jepang. Dunia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bisa begitu saja diatur, melainkan sebuah ruang bersama yang penuh dengan "teman/musuh" yang tak terlihat. Ketika seseorang percaya bahwa sebatang pohon tua memiliki jiwa atau sebuah sungai diawasi oleh entitas tertentu, muncul rasa segan dan hormat yang tulus. Kesadaran inilah yang menjadi jembatan antara mitologi kuno dengan praktik kehidupan yang sangat disiplin, di mana etika terhadap alam bukan sekadar aturan hukum, melainkan sebuah bentuk penghormatan spiritual yang menjaga keseimbangan jagat raya. Yaoyorozu no Kami pada akhirnya panduan moral bagi masyarakat Jepang dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Jika setiap tanah dan setiap tetes air dihuni oleh dewa, maka merusak alam sama saja dengan menodai sesuatu yang suci. Filosofi ini melahirkan budaya Mottainai, sebuah penyesalan ketika ada sesuatu yang terbuang sia-sia. Dengan memandang dunia sebagai ekosistem yang penuh dengan jiwa, tercipta sebuah tanggung jawab moral untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Harmoni atau Wa (和) bukan hanya dijalin antar manusia, melainkan juga antara manusia dengan seluruh entitas spiritual yang berbagi ruang di bumi ini.

Konsep ini adalah fondasi yang membangun karakter bangsa Jepang hingga hari ini. Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan fasilitas umum, ketelitian dalam merawat barang, hingga rasa segan untuk mengotori alam, semuanya berakar dari kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada "nyawa" dalam setiap hal yang kita temui. Dengan memandang dunia sebagai jiwa yang hidup dan sakral, ketertiban bukan lagi paksaan hukum, melainkan bentuk penghormatan tulus kepada alam sekitar. Inilah alasan mengapa di tengah kemajuan teknologi yang pesat, Jepang tetap mampu mempertahankan wajahnya yang bersih dan tertata. Karena bagi mereka, menjaga lingkungan adalah cara paling murni untuk memuliakan para dewa yang bersemayam di dalamnya.

Referensi:

Boyd, J. W., & Williams, R. G. (2005). Japanese Shinto: An Interpretation of a Priestly Tradition. Philosophy East and West, 55(1), 33-63.

Chamberlain, B. H. (Trans.). (2014). The Kojiki: Records of Ancient Matters. Tuttle Publishing. (Karya asli diterbitkan 712 M).

Komatsu, K. (2017). An Introduction to Yokai Culture: Monsters, Ghosts, and Outside Realms in Japanese Folklore. (M. J. Alt, Trans.). Japan Publishing Industry Foundation for Culture.

SDG: 12,