Pernahkah anda datang ke sebuah restoran di Jepang yang tradisional, bermaksud ingin mencoba makanan lokal, namun ternyata ada sebuah catatan bertuliskan “現金のみ”? Secara makna per kata, 現金 (Genkin) berarti “uang tunai” dan のみ berarti “hanya”. Sehingga, catatan bertuliskan 現金のみ memiliki arti “cash only” atau “Hanya menerima pembayaran tunai”. Banyak orang mengira bahwa negara dengan teknologi secanggih Jepang seharusnya sudah terbiasa menerapkan sistem cashless. Kenyataannya, meskipun penggunaan pembayaran cashless terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, uang tunai tetap memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Fenomena ini bukan disebabkan oleh keterbatasan teknologi, melainkan juga dipengaruhi oleh sejarah, budaya, tingkat kepercayaan masyarakat, hingga kebiasaan berbelanja yang telah dilakukan selama puluhan tahun.

Meskipun demikian, Jepang sebenarnya tengah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam adopsi pembayaran cashless. Berdasarkan laporan terbaru dari Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), rasio pembayaran cashless di Jepang pada tahun 2025 telah mencapai 58,0% dari total nilai konsumsi masyarakat, dengan nilai transaksi mencapai sekitar 162,7 triliun yen. Capaian ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dan menunjukan semakin luasnya penggunaan kartu kredit, uang elektronik, serta pembayaran berbasis kode QR. Namun, meskipun perkembangan pembayaran cashless sudah meningkat, keberadaan tulisan 「現金のみ」 di restoran tradisional, toko keluarga (kojinten), maupun berbagai usaha kecil di Jepang masih menjadi hal yang umum dijumpai. Hal ini membuktikan bahwa meskipun metode cashless terus berkembang, uang tunai tetap memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

Lalu, mengapa tulisan 「現金のみ」 masih sering dijumpai, terutama di took-toko atau restoran tradisional? Salah satu penyebabnya adalah karakteristik pelaku usaha di Jepang. Meskipun pembayaran cashless terus berkembang, banyak restoran tradisional, toko keluarga (kojinten), maupun usaha kecil masih mempertimbangkan ptongan untuk biaya layanan (merchant fee) yang dikenakan oleh penyedia digital payment. Selain itu, sebagian pelaku usaha juga merasa pembayaran tunai lebih sederhana karena dana dapat langsung diterima tanpa harus menunggu proses penyelesaian transaksi (settlement). Di sisi lain, bagi sebagian masyarakat Jepang, uang tunai masih dianggap sebagai alat pembayaran yang aman, mudah digunakan, dan dapat membantu mengendalikan pengeluaran sehari-hari. Kombinasi antara pertimbangan ekonomi pelaku usaha dan kebiasaan masyarakat inilah yang membuat tulisan 「現金のみ」 masih tetap mudah ditemukan di berbagai tempat.

Selain dari sisi pelaku usaha, kebiasaan masyarakat Jepang juga menjadi faktor penting pada penggunaan uang tunai yang masih bertahan hingga saat ini. Berdasarkan hasil Opinion Survey yang dilakukan oleh Bank of Japan (BOJ) pada tahun 2026, alasan utama masyarakat Jepang masih menggunakan uang tunai bukan karena tidak tersedia alternatif pembayaran digital. Sebaliknya, sebagian besar responden berpendapat bahwa pembayaran tunai dapat diselesaikan secara langsung (the payment is completed on the spot), hampir semua tempat masih menerima uang tunai, serta penggunaan uang tunai membantu mereka mengendalikan pengeluaran agar tidak berlebihan. Sebagian responden juga menilai bahwa pembayaran tunai lebih mudah dilakukan, tidak ada biaya tambahan (additional charge), dan merupakan alat pembayaran yang paling baik. Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi terhadap uang tunai di Jepang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknologi, tetapi juga oleh kenyamanan, kebiasaan, serta persepsi masyarakat terhadap keamanan dan kepraktisan bertransaksi.

Pada akhirnya, tulisan 「現金のみ」 bukan sekadar pemberitahuan mengenai metode pembayaran, namun juga menampilkan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Jepang mengadopsi teknologi dengan cara yang unik. Meskipun pembayaran cashless terus berkembang dan penggunaannya meningkat dari tahun ke tahun, uang tunai masih tetap dipertahankan karena dianggap praktis, andal, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghapus tradisi yang telah lama mengakar, melainkan sering kali berjalan berdampingan dengan masyarakat dan budaya yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Jadi, saat berkunjung ke Jepang, selalu siapkan uang tunai, terutama jika Anda berencana makan atau berbelanja di restoran tradisional atau berjalan-jalan di area tradisiona. Meskipun cashless semakin umum, tulisan 「現金のみ」 masih akan sering dijumpai di berbagai tempat.

Referensi:

Bank of Japan. (2026). Opinion Survey on the General Public's Views and Behavior (April 2026 Survey). https://www.boj.or.jp/en/research/o_survey/data/ishiki2604.pdf

Ministry of Economy, Trade and Industry. (2026, March 31). FY2025 Ratio of Cashless Payment Among the Total Amount Paid by Consumers Calculated. https://www.meti.go.jp/press/2025/03/20260331006/20260331006.html

Reuters. (2025, June 11). Japan's Shift to Cashless Society Prods BOJ Call for Payment Innovation. https://www.reuters.com/world/china/japans-shift-cashless-society-prods-boj-call-payment-innovation-2025-06-11/

SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure