Shinkansen(新幹線): Simbol Modernisasi Jepang yang Melaju Lebih Cepat dari Zamannya
Ketika orang membicarakan Jepang modern, bayangan yang sering muncul bukan hanya robot atau teknologi canggih, tetapi juga Shinkansen. Kereta cepat ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol bagaimana Jepang membangun kembali dirinya dan membentuk identitas nasional baru setelah masa kelam Perang Dunia II.
Pasca Perang Dunia II, Jepang menghadapi tantangan besar seperti kota-kota hancur, ekonomi lumpuh, dan kepercayaan diri nasional runtuh. Namun, Jepang sadar mereka harus segera bangkit, dan untuk itu mereka memilih jalan modernisasi cepat dan terencana (近代化/kindaika) di bawah pengawasan pemerintah Amerika, karena saat itu Jepang sedang di bawah otoritas Amerika Serikat. Puncak simbol kebangkitan ini terjadi pada tahun 1964, ketika Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 1964. Pada tahun yang sama, Shinkansen jalur Tokyo - Osaka resmi beroperasi. Jepang memperkenalkan kereta penumpang dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam, sesuatu yang pada masa itu terasa futuristik. Bagi Jepang, Shinkansen bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi pernyataan kepada dunia bahwa negara ini telah bangkit kembali sebagai negara modern dengan teknologi kelas dunia.

Enam puluh tahun sejak pertama kali beroperasi, Shinkansen tidak berhenti berevolusi. Di tengah tantangan zaman yang mencakup mulai dari perubahan demografi, isu lingkungan, hingga persaingan global, Shinkansen menunjukkan bahwa modernisasi adalah proses berkelanjutan, bukan pencapaian sekali jadi. Shinkansen generasi terbaru dirancang tidak hanya untuk kecepatan, tetapi juga kenyamanan dan keberlanjutan. Konsumsi energi dibuat lebih efisien, tingkat kebisingan ditekan, dan desain aerodinamis terus diperbarui. Kereta-kereta modern juga dilengkapi sistem keselamatan yang semakin kompleks, termasuk teknologi pendeteksi gempa yang mampu menghentikan kereta secara otomatis sebelum guncangan besar terjadi. Simbol paling jelas dari Shinkansen masa kini adalah pengembangan jalur Chūō Shinkansen, yang dirancang untuk menghubungkan Tokyo dan Nagoya, lalu Osaka. Kereta ini menggunakan teknologi levitasi magnetik dan ditargetkan melaju hingga lebih dari 500 km/jam.
Menariknya, keunggulan Shinkansen tidak hanya terletak pada mesinnya, tetapi juga pada filosofi operasionalnya. Keselamatan selalu ditempatkan di atas kecepatan. Hingga kini, Shinkansen dikenal sebagai salah satu sistem kereta paling aman di dunia. Dan bagi penumpang, naik Shinkansen adalah pengalaman yang unik. Gerbong bersih, suasana tenang, dan petugas yang membungkuk saat masuk dan keluar kereta memperlihatkan konsep omotenashi (keramahtamahan khas Jepang). Seiring waktu, Shinkansen berkembang menjadi bagian dari 国家アイデンティティ (kokka identity) Jepang. Ia sering disejajarkan dengan simbol nasional lain seperti Gunung Fuji (富士山) atau bunga sakura, ikon yang merepresentasikan Jepang di mata dunia.

Shinkansen memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi representasi pembentukan identitas nasional. Melalui sistem yang mengedepankan ketepatan waktu, keselamatan, dan pelayanan publik, Jepang berhasil mengintegrasikan modernisasi (近代化) dengan nilai budaya yang telah lama mengakar. Dengan demikian, Shinkansen dapat dipahami bukan hanya sebagai pencapaian teknologi, tetapi sebagai representasi nyata hubungan antara budaya, negara, dan masyarakat Jepang kontemporer.
SDG 9 & SDG 11
Referensi:
Japan Railway & Transport Review Editorial Committee. (1997). History of the Shinkansen. Japan Railway & Transport Review, No. 11.
https://www.ejrcf.or.jp/jrtr/jrtr11/history.html
Japan Railway & Transport Review Editorial Committee. (2004). Evolution of Shinkansen technology. Japan Railway & Transport Review, No. 36.
https://www.ejrcf.or.jp/jrtr/jrtr36/f04_soe.html
Japan Railway & Transport Review Editorial Committee. (2018). Shinkansen today and tomorrow. Japan Railway & Transport Review.
https://www.ejrcf.or.jp/jrtr/
JR Central. (n.d.). About the Chuo Shinkansen (Maglev). Central Japan Railway Company.
https://company.jr-central.co.jp/en/chuo-shinkansen/
Comments :