Setiap negara pasti memiliki karya seni klasik yang khas, termasuk Jepang. Jika topik karya seni klasik Jepang menjadi topik pembicaraan, akan terbayang ombak besar, aktor kabuki atau geisha yang sedang berjalan atau menari. Atau bahkan sebuah lukisan hantu atau makhluk halus Jepang. karya seni klasik tersebut adalah yang kita sebut dengan 浮世絵 (Ukiyo-e).

Secara harafiah, ukiyo-e berarti “gambar dunia yang mengapung”. Ukiyo-e bertumbuh pada periode Edo dan merupakan karya seni yang merujuk pada gaya hidup, pemandangan dan tokoh. Bisa juga menggambarkan kondisi masyarakat dan juga kepercayaan masyarakat pada masa itu. Ukiyo-e bukan seni istana, melainkan seni rakyat yang bisa dibeli oleh masyarakat biasa. Faktanya, pada zaman Edo, karya seni Ukiyo-e dianggap seni murahan yang bisa dibeli dengan “harga semangkuk mie”. Namun saat ini, Ukiyo-e sudah menjadi karya seni klasik Jepang yang bahkan banyak karya yang disimpan pada museum di luar Jepang.

Ukiyo-e berkembang pesat seiring tumbuhnya kelas pedagang (chōnin) di kota-kota besar seperti Edo (Tokyo), Osaka, dan Kyoto. Kehidupan kota yang ramai, distrik hiburan, teater kabuki, dan rumah teh menjadi sumber inspirasi utama para seniman ukiyo-e.

Dalam pembuatan karya seni Ukiyo-e, biasanya terdapat beberapa tema utama, yaitu:

  • Wanita cantik/geisha (Bijin-ga)
  • Aktor Kabuki (yakusha-e)
  • Pemandangan alam dan kota (Fuukei-ga)
  • Samurai dan Pahlawan (Musha-e)
  • Dunia Mistis dan Yōkai

Di balik keindahan visual tersebut, proses pembuatan Ukiyo-e ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sering kali para penikmat Ukiyo-e atau Masyarakat salah mengira, bahwa karya seni Ukiyo-e dikerjakan oleh satu orang seniman. Pada kenyataannya, untuk menciptakan sebuah karya Ukiyo-e, melibatkan 1 tim seperti percetakan pada zaman sekarang. Tim tersebut terdiri dari:

  • Eshi (絵師) – desainer/pelukis
  • Horishi (彫師) – pemahat kayu
  • Surishi (摺師) – pencetak
  • Hanmotō (版元) – penerbit

Tidak hanya di Jepang, Ukiyo-e juga kemudian popular di Masyarakat Eropa terutama pada abad ke-19. Fenomena ini disebut sebagai Japonisme yang kemudian Ukiyo-e memberikan pengaruh pada seniman-seniman terkenal pada zaman tersebut seperti Vincent Van Gogh dan Monet.

Memahami ukiyo-e berarti memahami cara orang Jepang memandang kehidupan pada masa Edo. Bukan hanya tentang keindahan visual, tetapi juga tentang nilai, hiburan, kepercayaan, dan keseharian masyarakatnya. Oleh karena itu, ukiyo-e tidak hanya penting sebagai karya seni, tetapi juga sebagai dokumen budaya yang memperkaya pemahaman kita tentang Jepang.

referensi:

Guth, Christine. Art of Edo Japan: The Artist and the City 1615–1868. New York: Harry N. Abrams, 1996.
Harris, Frederick. Ukiyo-e: The Art of the Japanese Print. Tokyo: Tuttle Publishing, 2010.

keywords: Japanese, Japanese Culture, Japanese art, Ukiyo-e, classic arts

SDG: 11,