{"id":1479,"date":"2025-02-10T11:16:00","date_gmt":"2025-02-10T04:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/?p=1479"},"modified":"2025-02-17T11:16:31","modified_gmt":"2025-02-17T04:16:31","slug":"super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/","title":{"rendered":"Super Kabuki (\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e): Saat Kesenian Klasik Dipadukan Dengan Dunia Modern"},"content":{"rendered":"<p><em>Kabuki<\/em> adalah salah satu seni teater tradisional Jepang. <em>Kabuki<\/em> sendiri secara etimologi merupakan gabungan dari tiga kanji yaitu \u6b4c(Ka) yang berarti lagu, \u821e(Bu atau Mai) yang berarti tarian dan \u4f0e(Ki atau Waza) yang berarti kemampuan. Berarti <em>Kabuki<\/em> adalah drama tradisional Jepang yang memadukan unsur lagu dan tarian. <em>Kabuki<\/em> merupakan salah satu kesenian tradisional Jepang yang masih bertahan hingga saat ini dan Jepang masih berusaha untuk terus melestarikan <em>Kabuki<\/em> ini.<\/p>\n<p>Namun, Pada tahun 1986, seorang tokoh <em>kabuki<\/em> bernama Icihikawa Ennosuke III menampilkan sebuah pertunjukan <em>kabuki<\/em> yang berbeda dari biasanya, yang kemudian akan dikenal sebagai <em>Super<\/em> <em>Kabuki<\/em>. Pertunjukan pertama dari <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> yang terkenal berjudul \u201c<em>Yamato Takeru<\/em>\u201d. Pada awalnya, <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> ini mendapatkan cemooh dan penolakan dari tokoh <em>kabuki<\/em> lain. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> ini dianggap \u201chanya mencari perhatian\u201d dan sebagai gangguan bagi <em>kabuki<\/em> yang sesungguhnya. Namun di tangan Ennosuke III, <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> ini menjadi sangat populer di Jepang.<\/p>\n<p>Dalam dunia <em>kabuki<\/em>, biasanya seseorang bisa menjadi pemain karena turun-temurun. Begitu pula dengan keluarga Ichikawa Ennosuke. Ichikawa Ennosuke generasi pertama (1855-1922) merupakan salah seorang tokoh dalam dunia <em>kabuki<\/em>. Ichikawa Ennosuke generasi pertama merupakan pemimpin dari sebuah kelompok <em>kabuki<\/em> yang memperkenalkan perubahan radikal pada <em>kabuki<\/em>. Pada tahun 1986, cucu dari Ichikawa Ennosuke, yaitu Ichikawa Ennosuke III mempopulerkan kembali pertunjukan <em>kabuki<\/em> yang berbeda dari <em>kabuki<\/em> klasik. Kemudian, pertunjukan <em>kabuki<\/em> yang dipopulerkan oleh Ichikawa Ennosuke ini disebut dengan <em>Super kabuki<\/em>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-1480 aligncenter\" src=\"http:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-640x395.png\" alt=\"\" width=\"381\" height=\"235\" srcset=\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-640x395.png 640w, https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-1536x947.png 1536w, https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-480x296.png 480w, https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-768x474.png 768w, https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-1024x632.png 1024w, https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei.png 1920w\" sizes=\"(max-width: 381px) 100vw, 381px\" \/><\/p>\n<p>Pada dasarnya, <em>Super<\/em> <em>Kabuki<\/em> bukanlah perubahan dari <em>kabuki<\/em>, namun sebuah modifikasi dari <em>kabuki<\/em> klasik. Beberapa modifikasi yang dapat ditemukan pada <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Bahasa<\/strong>. <em>Kabuki<\/em> klasik menggunakan bahasa pada jaman edo pada saat pementasan. Sedangkan <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> menggunakan bahasa Jepang modern. Pada saat pementasan, terkadang <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> juga melibatkan pengeras suara sehingga penonton lebih bisa mendengar dialog-dialog<\/li>\n<li><strong>Pencahayaan<\/strong>. <em>Kabuki<\/em> klasik masih menggunakan pencahayaan yang minim, dengan mempertahankan pencahayaan \u201cseperti lilin\u201d sehingga sedikit gelap. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> menggunakan pencahayaan yang cukup terang serta dikendalikan oleh komputer<\/li>\n<li><strong>Latar<\/strong>. <em>Kabuki<\/em> klasik menggunakan latar belakang panggung yang berupa gambar atau lukisan. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> sudah menggunakan latar belakang yang bisa diberi efek-efek untuk memperkuat suasana adegan (seperti efek kilat-kilat dan petir untuk adegan pertarungan di tengah badai)<\/li>\n<li><strong>Musik<\/strong>. <em>Kabuki<\/em> klasik masih menggunakan alat-alat musik tradisional seperti shamisen atau koto. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> selain menggunakan musik-musik tradisional, juga melibatkan alat-alat musik kontemporer seperti drum, gitar, dll. Bahkan beberapa pertunjukan menggunakan musik yang sudah direkam sebelumnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Selain modifikasi yang telah disebutkan, ada hal yang sangat membedakan <em>kabuki<\/em> klasik dengan <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em>. Hal itu adalah efek-efek yang digunakan pada pementasan. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> menampilkan \u201cefek terbang\u201d dengan menggunakan kawat-kawat tipis yang dipasangkan kepada pemain, sehingga pada adegan tertentu, pemain biasa terlihat seperti terbang. Hal ini tidak ada pada pementasan <em>kabuki<\/em> klasik. Salah satu hal yang juga membedakan antara <em>Kabuki<\/em> klasik dan <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> adalah harga tiket yang ditawarkan. <em>Kabuki<\/em> biasanya memberikan harga untuk tiket sebesar sekitar 10.000 <em>yen<\/em>. <em>Super<\/em> <em>kabuki<\/em> memberikan harga untuk tiketnya sekitar 2000 <em>yen<\/em>. Sehingga untuk bisa menonton <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em>, seseorang tidak perlu dari golongan menengah ke atas.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-1481 aligncenter\" src=\"http:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/Picture3.jpg\" alt=\"\" width=\"162\" height=\"231\" \/><\/p>\n<p>Saat ini, <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> sudah mendapatkan cukup atensi dan sudah memiliki banyak penggemar. Ada juga karya-karya <em>anime <\/em>atau <em>manga <\/em>juga mendapat adaptasi <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em>, salah satunya adalah <strong><em>One Piece<\/em><\/strong> karya Eiichiro Oda. Semua orang penggemar <em>anime <\/em>dan<em> manga <\/em>pasti sudah tidak asing dengan <strong><em>One Piece<\/em><\/strong>, yang pernah mendapatkan penghargaan <em>Guinness World of Record <\/em>untuk \u201cpencetakan terbanyak oleh sebuah komik dari satu orang penulis\u201d. <strong><em>One Piece<\/em><\/strong> mendapatkan adaptasi <em>super<\/em> <em>kabuki<\/em> 2 kali pada tahun 2015 dan 2017.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e\u2161\u300e\u30ef\u30f3\u30d4\u30fc\u30b9\u300f\u30b9\u30dd\u30c3\u30c8\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/BxxNfZcSr7k?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kabuki adalah salah satu seni teater tradisional Jepang. Kabuki sendiri secara etimologi merupakan gabungan dari tiga kanji yaitu \u6b4c(Ka) yang berarti lagu, \u821e(Bu atau Mai) yang berarti tarian dan \u4f0e(Ki atau Waza) yang berarti kemampuan. Berarti Kabuki adalah drama tradisional Jepang yang memadukan unsur lagu dan tarian. Kabuki merupakan salah satu kesenian tradisional Jepang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":1480,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1479","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"featured_image":{"phone":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-480x296.png","tablet":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei-768x474.png"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.4.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Super Kabuki (\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e): Saat Kesenian Klasik Dipadukan Dengan Dunia Modern - Business Engineering<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Super Kabuki (\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e): Saat Kesenian Klasik Dipadukan Dengan Dunia Modern - Business Engineering\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kabuki adalah salah satu seni teater tradisional Jepang. Kabuki sendiri secara etimologi merupakan gabungan dari tiga kanji yaitu \u6b4c(Ka) yang berarti lagu, \u821e(Bu atau Mai) yang berarti tarian dan \u4f0e(Ki atau Waza) yang berarti kemampuan. Berarti Kabuki adalah drama tradisional Jepang yang memadukan unsur lagu dan tarian. Kabuki merupakan salah satu kesenian tradisional Jepang yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-\u30b9\u30fc\u30d1\u30fc\u6b4c\u821e\u4f0e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Business Engineering\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-10T04:16:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-17T04:16:31+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei.png\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/#website\",\"url\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/\",\"name\":\"Business Engineering\",\"description\":\"BINUS UNIVERSITY\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/02\/jap-sensei.png\",\"width\":1920,\"height\":1184},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/\",\"name\":\"Super Kabuki (\\u30b9\\u30fc\\u30d1\\u30fc\\u6b4c\\u821e\\u4f0e): Saat Kesenian Klasik Dipadukan Dengan Dunia Modern - Business Engineering\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2025-02-10T04:16:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-17T04:16:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/#\/schema\/person\/9f66f936705b3e1d964f9aec06498d68\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/2025\/02\/10\/super-kabuki-%e3%82%b9%e3%83%bc%e3%83%91%e3%83%bc%e6%ad%8c%e8%88%9e%e4%bc%8e-saat-kesenian-klasik-dipadukan-dengan-dunia-modern\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/#\/schema\/person\/9f66f936705b3e1d964f9aec06498d68\",\"name\":\"businesseng\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/284a05a54bbe589b01d4450d3fccc4b9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"businesseng\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1479"}],"collection":[{"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1479"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1479\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1483,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1479\/revisions\/1483"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/base.binus.ac.id\/business-engineering\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}