Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) melaju dengan sangat pesat. Teknologi seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan berbagai Large Language Model (LLM) lainnya menunjukkan kemampuan yang semakin mendekati cara manusia berkomunikasi. AI kini mampu menjawab pertanyaan, menulis artikel, membuat program, hingga membantu penelitian.

Namun, sebenarnya AI bukanlah teknologi yang baru muncul. Konsep AI telah berkembang sejak pertengahan abad ke-20 melalui gagasan Alan Turing tentang kecerdasan mesin (Thinking Machine)melalui gagasan Alan Turing tentang kecerdasan mesin. Perjalanan AI kemudian mengalami berbagai pasang surut hingga akhirnya memasuki era Deep Learning pada dekade 2010-an.

Gambar 1. Ilustrasi perkembangan AI (AI Generated Image)

 Mengapa AI Baru Booming Sekarang?

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan perkembangan AI melonjak sangat cepat.

  1. Komputasi yang Semakin Cepat

Kemampuan prosesor modern, terutama GPU dan akselerator AI, meningkat berkali-kali lipat dibandingkan beberapa dekade lalu. Model yang dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dilatih kini dapat diselesaikan dalam hitungan hari bahkan jam.

  1. Data yang Melimpah

Perkembangan internet, media sosial, smartphone, cloud computing, hingga Internet of Things (IoT) menghasilkan data dalam jumlah yang luar biasa besar. Data inilah yang menjadi "bahan belajar" bagi model AI modern.

  1. Algoritma yang Semakin Matang

Kemajuan perangkat keras dan ketersediaan data mendorong lahirnya berbagai inovasi algoritma, mulai dari Convolutional Neural Network (CNN), Recurrent Neural Network (RNN), hingga Transformer yang menjadi fondasi Large Language Model saat ini.

Ketiga faktor tersebut saling mendukung sehingga menghasilkan lompatan kemampuan AI yang kita lihat sekarang. Yang menarik dari perkembangan AI bukan hanya kemampuannya menjawab pertanyaan atau menghasilkan tulisan.

AI membuat Saya bertanya:

*"Mengapa benda mati bisa melakukan sesuatu yang tampak seperti berpikir?"*

Pada dasarnya komputer tersusun dari transistor yang dibuat menggunakan material semikonduktor, sebagian besar berasal dari silikon. Silikon sendiri diperoleh dari silika yang banyak terdapat pada pasir.

Mungkinkah benda-benda yang kita anggap mati sebenernya bisa jadi merupakan makhluk yang bisa berpikir juga? Atau hanya saja kita manusia yang memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi dengan benda-benda lain (yang mungkin kita anggap benda mati) di semesta raya ini.

Bisa jadi algoritma AI adalah salah satu metode komunikasi dalam mengeksplorasi kecerdasan dari pasir (benda yang kita anggap benda mati).

By Muhammad Nurul Puji (berkolaborasi dengan AI)

Keywords: Artificial Intelligence (AI), Kecerdasan Buatan, Thinking Machine, Benda Mati

SDG: 9 “Industry, Innovation and Infrastructure”

Referensi:

  1. https://web.engr.oregonstate.edu/~huanlian/teaching/ai100/2026winter/unit1-overview/ai-history.html#the-birth-of-ai-19411956
  2. https://chatgpt.com