Ketahanan energi merupakan fondasi yang tidak dapat ditawar dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan beroperasi selama 24 jam tanpa henti, dengan ketergantungan tinggi pada pasokan listrik untuk menopang berbagai layanan vital, mulai dari ruang operasi, unit perawatan intensif, ventilator, sistem penyimpanan vaksin, hingga peralatan diagnostik canggih seperti CT-scan dan MRI. Gangguan listrik, bahkan dalam durasi yang relatif singkat, dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa pemadaman listrik berkepanjangan di fasilitas kesehatan berkorelasi langsung dengan peningkatan angka kematian. Dalam konteks inilah, solusi energi yang tangguh, andal, dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak.

Ilustrasi Pemanfaatan Hydrogen Energy Storage untuk Ketahanan Energi Fasilitas Kesehatan (dibuat dengan GPT)

Menjawab tantangan tersebut, sebuah artikel berjudul “Hydrogen Energy Storage for Healthcare Resilience” telah dipublikasikan di jurnal internasional Global Transitions, Volume 8 [1] tahun 2026 . Artikel ini ditulis oleh Alfan Sarifudin dari Universitas Bina Nusantara (Indonesia), bersama Prof. Hwai Chyuan Ong dari Sunway University (Malaysia) dan University of Technology Sydney (Australia), serta Prof. Long Chiau Ming dari Sunway University (Malaysia) dan Datta Meghe Institute of Higher Education and Research (India). Kolaborasi lintas negara ini merefleksikan meningkatnya perhatian global terhadap peran energi bersih dalam menopang sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.

Ilustrasi Pemanfaatan Hydrogen Energy Storage untuk Ketahanan Energi Fasilitas Kesehatan Saat Krisis (dibuat dengan GPT)

Artikel tersebut mengkaji secara komprehensif potensi Hydrogen Energy Storage (HES) sebagai solusi penyimpanan energi jangka panjang untuk fasilitas kesehatan. Hidrogen memiliki karakteristik unik sebagai pembawa energi (energy carrier). Energi dari sumber terbarukan seperti tenaga surya dan angin dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis air. Hidrogen yang dihasilkan kemudian disimpan dan dapat dikonversi kembali menjadi listrik menggunakan sel bahan bakar ketika pasokan listrik utama terganggu. Proses ini memungkinkan rumah sakit memiliki cadangan energi yang tidak hanya besar, tetapi juga fleksibel dan rendah emisi.

Dibandingkan dengan sistem cadangan konvensional seperti generator diesel, HES menawarkan keunggulan signifikan. Generator diesel memang umum digunakan karena relatif murah dan mudah dioperasikan, tetapi menghasilkan emisi karbon tinggi, polusi udara, serta kebisingan yang mengganggu kenyamanan pasien. Selain itu, pasokan bahan bakar fosil sering kali terganggu saat bencana alam atau krisis logistik. Sebaliknya, sistem HES dapat diintegrasikan langsung dengan energi terbarukan di lokasi rumah sakit, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal dan meningkatkan kemandirian energi.

Artikel ini juga menyoroti bagaimana HES telah diterapkan di berbagai konteks geografis. Di wilayah pedesaan Afrika Selatan, misalnya, klinik kesehatan berhasil mengadopsi mikrogrid berbasis panel surya dan turbin angin yang dipadukan dengan penyimpanan hidrogen. Sistem ini memungkinkan layanan kesehatan tetap berjalan meskipun jaringan listrik nasional tidak stabil. Di wilayah konflik seperti Gaza, sistem hibrida berbasis hidrogen digunakan untuk mencapai tingkat kemandirian energi yang tinggi di tengah keterbatasan sumber daya. Sementara itu, di kota-kota besar seperti Riyadh, Tehran, dan beberapa wilayah Eropa, HES dimanfaatkan untuk menurunkan biaya operasional rumah sakit sekaligus mengurangi emisi karbon.

Perkembangan teknologi HES juga sejalan dengan meningkatnya kompleksitas kebutuhan energi rumah sakit. Rumah sakit modern tidak hanya membutuhkan listrik, tetapi juga panas dan pendinginan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, artikel ini membahas integrasi HES dengan sistem Combined Heat and Power (CHP) serta Combined Cooling, Heating, and Power (CCHP). Sistem ini memungkinkan satu sumber energi menghasilkan listrik sekaligus memanfaatkan panas buangan untuk pemanasan dan pendinginan ruangan. Dalam konteks rumah sakit, pendekatan ini sangat relevan untuk menjaga kestabilan suhu dan kelembapan di ruang operasi, laboratorium, dan fasilitas penyimpanan obat serta vaksin.

Selain aspek teknis, artikel ini juga membahas tantangan implementasi HES secara realistis. Biaya investasi awal yang relatif tinggi masih menjadi kendala utama, terutama bagi rumah sakit kecil dan fasilitas kesehatan di negara berkembang. Selain itu, regulasi terkait penyimpanan hidrogen, standar keselamatan, serta kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu keberhasilan adopsi. Namun demikian, berbagai studi kasus menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, sistem hibrida yang mengombinasikan energi terbarukan, baterai, dan HES dapat memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan melalui pengurangan biaya energi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dari perspektif ketahanan bencana, peran HES menjadi semakin strategis. Rumah sakit sering kali menjadi pusat respons darurat saat terjadi gempa bumi, banjir, badai, atau krisis kesehatan seperti pandemi. Dalam situasi tersebut, keandalan pasokan energi menjadi faktor penentu kelangsungan layanan medis. Dengan kemampuan menyimpan energi dalam jumlah besar untuk jangka waktu lama, HES memungkinkan rumah sakit tetap beroperasi selama berhari-hari meskipun jaringan listrik utama lumpuh.

Artikel “Hydrogen Energy Storage for Healthcare Resilience” menegaskan bahwa HES bukan sekadar solusi teknis, tetapi bagian dari transformasi sistem energi sektor kesehatan. Dengan menurunkan emisi karbon, meningkatkan kemandirian energi, dan memperkuat ketahanan operasional, HES selaras dengan agenda global menuju pembangunan berkelanjutan. Dukungan kebijakan, insentif ekonomi, serta pengembangan kapasitas teknis akan menjadi kunci untuk mempercepat adopsi teknologi ini.

Pada akhirnya, investasi dalam sistem energi yang tangguh bukan hanya soal efisiensi atau penghematan biaya, tetapi juga soal keselamatan manusia. Dengan memanfaatkan penyimpanan energi hidrogen, fasilitas kesehatan dapat memastikan bahwa layanan medis tetap tersedia kapan pun dibutuhkan, bahkan dalam kondisi paling krisis sekalipun. Artikel ini memberikan landasan ilmiah yang kuat bagi pembuat kebijakan, pengelola rumah sakit, dan peneliti untuk melihat hidrogen bukan sebagai teknologi masa depan semata, tetapi sebagai solusi nyata bagi ketahanan sistem kesehatan saat ini dan mendatang.

SDG: 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG & 7 Energi Bersih dan Terjangkau

Referensi

[1]        A. Sarifudin, H. Chyuan, and L. Chiau, “Hydrogen energy storage for healthcare resilience,” Glob. Transitions, vol. 8, no. 1, pp. 193–222, 2026, doi: 10.1016/j.glt.2025.11.001.