People Innovation Excellence

Teknologi Suspensi Aktif pada Mobil

Salah satu suspensi aktif yang pertama dikembangkan untuk automotive adalah suspensi aktif milik Lotus di era 80-an yang dipakai untuk kompetisi Formula 1 dengan menggantikan pegas dan peredam dengan aktuator hidrolik atau elektromagnetik untuk mengontrol posisi roda. Dalam konfigurasi suspensi konvensional, sistem aksi reaksi dimana permukaan jalan mendorong roda dan pegas mendorong ke bawah untuk mempertahankan kesimbangan beban. Dalam sistem suspensi aktif, aktuator mengontrol posisi roda dengan aktif mengangkat roda jika bertemu dengan tonjolan atau mendorongnya ke bawah jika bertemu dengan lubang, sehingga mampu menjaga posisi sasis tetap pada posisi awalnya. Suspensi aktif dapat digunakan secara otomatis maupun manual untuk mengontrol pitch (ketinggian dan posisi bagian mobil depan dan belakang), roll (ketinggian dan posisi mobil kiri dan kanan), kenyamanan, dan karakteristik suspensi untuk meningkatkan cengkeraman ban. Aplikasi pada kendaraan roda dua juga sudah diaplikasikan pada motor berkubikasi besar seperti Ducati Multistrada, Ducati 1299 Panigale S, Yamaha YZF-R1M, and MV Agusta F4 RR [1].

Kebanyakan produsen motor melakukan pengembangannya sendiri. Ini termasuk Jaguar, Mercedes Benz, Toyota, dan juga produsen lainnya. Mobil formula 1 merupakan ajang pembuktian penggunaan suspensi aktif, dengan sistem respon tinggi dan standar komponen pesawat terbang. Untuk penggunaan komersial yang luas, diperlukan aktuator dan katup kontrol yang lebih murah harus digunakan, sehingga sistem dengan respon yang rendah secara umum digunakan. Namun sayangnya, teknologi ini dilarang di Formula 1 setelah Nigel Mansell dengan team William memecahkan rekor musim balapan tahun 1992 dengan suspensi aktif. Pada kondisi saat ini teknologi suspensi aktif masih cukup berat, besar dan mahal untuk produksi komersial apalagi untuk sepeda motor [1].

Sistem yang hanya mampu menyesuaikan koefisien viskositas redaman dari shock absorber (tanpa melakukan perubahan pada pegas) disebut sistem suspensi semi-aktif. Suspensi semi-aktif dasar menggunakan katup elektrik dikontrol untuk menyesuaikan aliran cairan hidrolik di dalam shock absorber untuk mengubah karakteristik peredam nya. Sebuah inovasi yang lebih baru menggunakan medan magnet yang dihasilkan elektrik untuk secara efektif mengubah viskositas cairan shock absorber yang dimana didalamnya terkandung partikel logam yang dapat dipengaruhi oleh medan magnet [2,3].

Sistem suspensi aktif terdiri dari komponen-komponen berikut: komputer (unit elektronik kontrol, atau ECU), peredam yang dapat diatur redamannya, serangkaian sensor pada setiap roda dan sensor pada beberapa posisi di mobil, dan aktuator atau servo atas setiap peredam dan pegas. Komponen dapat sedikit berbeda dari produsen ke produsen, tetapi ini adalah bagian dasar yang membentuk sistem suspensi aktif. Sistem ini dapat beradaptasi dengan permukaan jalan ratusan kali per detik (sampai 500 kali per detik), sehingga dengan sangat cepat memberikan kemampuan bagi pengendara untuk dapat beradaptasi dengan kondisi jalan secara cepat  pula [4,5].

Teknologi Suspensi Aktif pada Mobil

Sumber : Motor Magazine (www.motor.com)

Seperti disebutkan di atas, suspensi aktif bekerja dengan perubahan terus-menerus dari penginderaan permukaan jalan dan memberi informasi melalui ECU untuk dapat di lanjutkan ke komponen aktuator sesuai dengan respon yang ingin diberikan. Komponen-komponen ini kemudian bertindak untuk mengubah karakter berkendara, menyesuaikan guncangan, posisi pegas dan sejenisnya, untuk meningkatkan kenyamanan, kemudahan berkendara, kecepatan respon dan lain sebagainya.

Beberapa teknologi suspensi aktif yang telah dikembangkan antara lain; Bose, sistem ini memiliki cara mekanisme kerja dengan mengganti peredam dan pegas konvensional dengan motor elektromagnetik linear tunggal pada setiap roda. Ini adalah motor elektromagnetik yang dikendalikan komputer untuk memberikan suspensi lembut, dan pada saat yang sama menjaga ketinggian kendaraan secara aktif. Sistem ini juga didesain untuk mampu menangkal body roll dan pitch sudut kendaraan saat menikung, pengereman atau percepatan. MagneRide adalah nama komersial dari suspensi magnetorheologi yang dikembangkan oleh Delphi, dan akhir-akhir ini dijual ke grup BWI (Beijing West Industries). Suspensi magnetorheologi tergolong pada suspensi semi-aktif yang dengan mengubah sifat suspensi cairan dalam peredam melalui elektromagnet. Sistem ini meskipun menjadi suspensi semi-aktif mampu melakukan performa yang hampir mirip dengan suspensi aktif. Selanjutnya, Active Suspension System Stabilizer adalah perusahaan patungan antara Toyota dan Aisin Seiki Co untuk mengembangkan suspensi inovatif untuk Lexus. Sistem ini adalah sistem suspensi aktif yang sepenuhnya dikendalikan secara elektrik. Cara kerjanya mirip dengan yang saat ini digunakan oleh Jaguar-Land Rover, tapi bukan dengan menggunakan sistem hidrolik, melainkan sistem ini menggunakan motor brushless dengan sistem gear dan terhubung ke stabilizer bar (batang penahan body roll) [3].

Sistem lainnya termasuk sistem Hydractive dari Citroen, suspensi udara seperti pada Ford (Ford dan Lincoln), Land Rover, Mercedes-Benz (Mercedes-Benz dan Maybach), Rolls-Royce, SsangYong, Subaru, Toyota (Lexus) dan Volkswagen (Volkswagen dan Audi); PASM (Porsche Active Suspension Management) dari Porche, EDC (Electronic Damper Control) dari BMW; ABC (Active Body Control) dari Mercedes-Benz; Magnetic Ride Control dari General Motor; and DRC (Dynamic Ride Control) dari Audi [3,6]. Ini menunjukkan bahwa suspensi aktif menjadi salah satu fokus pengembangan sistem pintar yang dilakukan oleh para produsen mobil internasional. Untuk aplikasi secara komersial mungkin masih perlu beberapa waktu lagi karena ada kompensasi harga yang harus dibayar untuk dapat menggunakan teknologi tersebut.

Kontributor : E. Byan Wahyu R., S.T., M.Eng., PhD.

Referensi :

  1. Trevvit A. (9 Agustus 2016). Active Versus Semi Active Suspension. Retrieved from http://www.sportrider.com/active-versus-semi-active-suspension
  2. Walker G (1997). An Introduction to Active Suspension Systems. Retrieved from http://www-control.eng.cam.ac.uk/gww/what_is_active.html
  3. Essays, UK. (23 Maret 2015). Active Suspension Types Of Active Suspension Engineering Essay. Retrieved from https://www.ukessays.com/essays/engineering/active-suspension-types-of-active-suspension-engineering-essay.php
  4. Memmer S. (5 Desember 2009). Suspension III: Active Suspension Systems. Retrieved from https://www.edmunds.com/car-technology/suspension-iii-active-suspension-systems.html
  5. Chabot B. (21 Juni 2016). Intuitive Intelligent Suspensions. Retrieved from https://www.motor.com/newsletters/2016/20160621/!ID_IntuitiveIntelligentSuspensions.html
  6. Dyer E. (6 April 2015). 3 Technologies That Are Making Car Suspensions Smarter Than Ever. Retrieved from http://www.popularmechanics.com/cars/a14665/why-car-suspensions-are-better-than-ever/

Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close